MISKONSEPSI GURU DALAM KBM DI KELAS


MISKONSEPSI DALAM PEMBELAJARAN IPA SD

Oleh:

Nur Wijayanto dan Agus Zaenal Fanani

Pembelajaran IPA di sekolah dasar merupakan kegiatan pembelajaran yang menitikberatkan pada “kegiatan”. Dalam arti siswa dikondisikan melakukan kegiatan-kegiatan bukan diceramahi saja oleh guru. Siswa diajak bereksperimen, mengamati sesuatu ataupun berkarya wisata. Hal ini dilakukan atas dasar bahwa hakikat pembelajaran IPA adalah pengetahuan dibentuk atau dikonstruksi oleh siswa.

Pembelajaran IPA di sekolah dasar juga didasarkan karakteristik siswa. Piaget dalam Darmodjo dan Kaligis (1991/1992 : 19) menyatakan bahwa perkembangan intelektual siswa sekolah dasar (secara umum) berada pada tingkat operasional konkert (7-11 tahun). Pada tahap ini siswa berpikir atas dasar pengalaman konkret/nyata. Mereka belum dapat berpikir abstrak seperti membayangkan mimikri pada bunglon ataupun autotomi pada cecak.

Untuk dapat melakukan pembelajaran IPA yang dapat mengkonstruksi pengetahuan dan sesuai dengan karakteristik siswa, diperlukan kerja keras dan ketekunan guru dalam mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Dengan kata lain guru dituntut untuk “siap dan bisa” melaksanakan pembelajaran. Namun demikian masih terdapat guru yang Kurang “siap dan bisa” dalam melaksanakan pembelajaran IPA. Apabila hal ini tidak segera diatasi akan menimbulkan dampak-dampak yang merugikan siswa.

Salah satu dampak yang ditimbulakan oleh “kekurangsiapan dan kekurang-bisaan” ini adalah miskonsepsi. Novak dan Gowin dalam Yuliati (__:248) menyatakan bahwa miskonsepsi merupakan suatu interpretasi konsep-konsep dalam suatu pernyataan yang tidak dapat diterima. Sementara itu, Brown dalam Suparno, 2005:4 dalam Yuliati (__:248) menyatakan bahwa miskonsepsi merupakan penjelasan yang salah dan suatu gagasan yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah yang diterima para ahli. Berdasarkan dua pengetian ahli tersebut dapat dikatakan bahwa miskonsepsi (yang disebabkan guru) merupakan interpterasi atau pemahaman guru yang kurang tepat terhadap suatu konsep. Miskonsepsi-miskonsepsi apabila dibiarkan dan tidak segera diperbaiki akan menjadikan siswa melaksanakan konsep yang salah itu terus sepanjang hidupnya selama tidak ada perbaikan.

Bertolak dari paparan di atas, permasalahan yang dapat dirumuskan adalah: (1) Apa saja contoh miskonsepsi guru dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar? (2

About these ads

Tentang nurwijayantoz

Sedang belajar dan selalu belajar
Tulisan ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s